LUMBUNG KASIH GEREJA BETHANY SALATIGA
/in News, Ragam PeristiwaBETHANY.OR.ID Lumbung Kasih adalah salah satu program diakonia di Gereja Bethany Indonesia Salatiga. Program Lumbung Kasih di Gereja Lokal Wilayah Korda Jawa Tengah tersebut dimulai sejak bulan September 2021 pasca pandemi covid-19. Kegiatan tersebut dikerjakan agar gereja menjadi berkat dan berdampak bagi sesama yang membutuhkan guna meringankan beban dan meningkatkan kesejahteraan jemaat. Program tersebut mendapat dukungan bukan saja anggota jemaat Gereja Bethany Indonesia Salatiga tetapi juga jemaat simpatisan dengan cara menyalurkan taburan mereka dalam bentuk uang yang kemudian ada yang dirupakan barang lalu disalurkan kepada yang membutuhkan.
Beberapa bentuk kegiatan Lumbung Kasih yang sudah mereka kerjakan diantaranya,pemberian bantuan beasiswa bagi jemaat yang membutuhkan; pelayanan rutin ke Lembaga pemasyarakatan; kunjungan dan pelayanan rutin ke Panti Wredha dan Panti Asuhan; pembagian makan sehat ke warga masyarakat yang tinggal di area tempat pembuangan sampah akhir (TPA); berbagi sembako untuk jemaat dan warga di sekitar lingkungan Gereja yang membutuhkan.
Selain kegiatan diatas Lumbung Kasih juga bekerjasama dengan beberapa yayasan sosial diantaranya Yayasan PESAT, Yayasan Sahabat Orang Sakit / SOS, Yayasan Rumah Balai Berkat. Berikutnya juga membantu merenovasi rumah jemaat yang Kurang layak huni dan juga melakukan kegiatan bakti sosial di hari hari raya keagamaan. (skrt.sgbi).
Paskah Gabungan se-Provinsi Kaltara
/in News, Ragam Peristiwa
BETHANY.OR.ID- “The Power of The Cross” demikian tema Paskah Gubungan Gereja Bethany Indonesia se-Provinsi Kalimantan Utara pada Kamis 29 Mei 2025. Ketua Umum MPS dalam sambutannya yang disampaikan Sekum MPS, Pdt. Agus Nurcahyo (pembicara KKR Paskah) menyatakan, “bahwa lewat paskah Gabungan Gereja Bethany Indonesia se-Kaltara ini, kita eratkan kebersamaan dan kesatuan diantara kita, sebagai satu tubuh. Gereja Bethany Indonesia ada untuk mengobarkan kuasa kasih dan damai sejahtera Kristus, baik dalam keluarga maupun gereja,disisi yang lain kita juga harus dapat menghadirkan Terang Kristus bagi masyarakat dan kota Malinau.
Sementara itu Plh.Sekda Kabupaten Malinau Kaltara, Drs.H.Kamran Daik, M.Si. mewakili Pemkab Malinau menyampaikan ucapan selamat paskah dan mengingatkan agar Perayaan Paskah tidak hanya menjadi seremoni rohani, tetapi juga menjadi momentum penting untuk mempererat tali kasih, persaudaraan, dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat Malinau. “Mari jadikan nilai-nilai Paskah sebagai inspirasi untuk terus membangun kehidupan yang rukun, damai, dan saling menghargai,” ungkapnya
Kamran Daik pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kerukunan, mempererat persaudaraan lintas iman, serta bersinergi dalam membangun Kabupaten Malinau menjadi daerah yang aman, damai, dan sejahtera.*
Pada kesempatan itu juga diperingati Hari Ulang Tahun Gereja Bethany Indonesia Pelita Kanaan yang ke-22. Gembala Jemaat, Pdt.Benny Margani didampingi istri bersama pengurus menyanyikan lagu ulang tahun untuk gereja disertai tiup lilin.
Selain jemaat, acara yang berlangsung di Gereja Bethany Indonesia Pelita Kanaan Kabupaten Malinau, juga dihadiri oleh para Gembala Jemaat Gereja Bethany Provinsi Kaltara dan hamba-hamba Tuhan dari Aras Nasional.(sekretariat.bethany)
Pentahbisan Gembala Jemaat Gereja Bethany Nginden Surabaya
/in Kilas Sinode, NewsKALEIDOSKOP, BETHANY.OR.ID-“Sekaranglah sudah waktunya. Sebab selama 15 tahun terakhir ini saya berdoa, siapa yang akan mau menggantikannya. Namanya bukan lagi Aswin Tanusepura, tetapi David Aswin Tanuseputra.” Demikian ucapan singkat Ketua Dewan Rasuli Sinode Gereja Bethany, Pdt. Abraham Alex Tanuseputra, ketika mentahbiskan Pdt. Aswin Tanuseputra sebagai Gembala Sidang Gereja Bethany Nginden dan Cabang-cabangnya di hadapan Dewan Rasuli Gereja Bethany dan MPS (Majelis Pekerja Sinode), serta ribuan jemaat di Graha Bethany Nginden Surabaya pada 12 Juli 2012.
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra kemudian melepas jubah dan stola yang dikenakannya, lalu mengenakannya pada Pdt. David Aswin Tanuseputra, sebagai tanda diserahkannya tugas dan tanggung jawab penggembalaan di Gereja Bethany Nginden Surabaya dan Cabang-cabangnya. Walaupun demikian, menurut Pdt. Abraham, dia akan tetap berada di belakang guna mendukung pelayanan yang dilakukan oleh Pdt. David Aswin Tanuseputra, juga tetap aktif sebagai Ketua Dewan Rasuli Sinode Gereja Bethany Indonesia.
Sementara itu, Pdt.Jusufroni yang ikut hadir selaku pembicara, menyatakan: “…..yang terpenting, apa yang dilakukan Pdt. Abraham Alex Tanuseputra adalah memang suara Tuhan, waktu Tuhan dan kehendak Tuhan.” Dilanjutkannya: “ Kalau tongkat komando (serah terima gembala sidang; red.) itu diberikan, itu tandanya organisasi gereja sehat.”
Dengan pentahbisan gembala sidang yang baru, sejak hari itu Gereja Bethany Nginden dan Cabang-cabangnya memasuki babak baru.
Acara yang diadakan bersamaan dengan “Ibadah Doa Malam” tersebut berlangsung dengan hikmat dan dihadiri oleh seluruh pendeta Sinode Gereja Bethany Korda Surabaya dan jemaat.
Mengenai latar belakang bagaimana Pdt. Abraham menyerahkan tanggung jawab penggembalaan kepada putra keduanya itu, dipaparkannya, bahwa sewaktu berada di Gereja Bethany Manado usai pentahbisan Gereja Bethany di Provinsi Sulawesi Utara itu, ia berencana akan mengurapi 20 Pendeta setempat, namun ternyata yang maju ke hadapannya adalah 3000 orang jemaat, pada dia harus melayani mereka seorang demi seorang.
“Hadirat Tuhan luar biasa! Semula hanya sekitar 20 orang saja yang hendak saya urapi, tetapi yang maju justru 3000 orang. Lawatan yang kuat itu saya rasakan sampaipun saya hendak kembali ke Surabaya. Hingga di dalam pesawat pun, saya mendapat suatu pernyataan: ‘Sebelum Daud meninggal, Salomo ditunjuk untuk menggantikannya seperti tertulis dalam I Raja-raja 2:1-4.’ Jadi, saya pikir, saya disuruh kotbah tentang Daud dan Salomo. Setelah beberapa saat berdoa, ternyata saya baru mengerti, bahwa saya harus seperti Daud yang menunjuk Salomo untuk menggantikannya. Lalu saya bertanya, Salomonya siapa? Saya pikir hamba Tuhan yang mampu mengatur dan bisa berkotbah! Tetapi, ketika saya bertanya lagi, ‘Salomo siapa?’ Suara Tuhan jelas: Itu di sebelahmu! Pada hal, yang duduk bersebelahan dengan saya ialah Aswin. Saat itu juga saya berbicara langsung kepadanya, bahwa saya disuruh Tuhan untuk memilihnya. Dengan berbagai alasan dia menolak, sebab merasa tidak mampu. Tetapi saya katakan, Tuhan memang memilih yang tidak mampu agar bisa dipakaiNya.” Demikian Pdt. Abraham Alex Tanuseputra menceritakan asal mula dipilihnya Pdt. Aswin Tanuseputra, anak keduanya, untuk menggantikan dirinya. (wic)

